Rabu, 03 Desember 2014

Angkuhlah Satu

Angkuhnya..
Didewakan segala hal pribadi..
Diunggulkan segala cita dan obsesi sendiri..
Dikesampingkan dua, karena dua hanya satu ditambah satu, dua tidak akan menyatu.
Angkuhnya..pantaslah hidup sendiri, agar satu tetap satu.
Bahagia..satu..
Sakitlah satu..
Angkuhlah satu..

Read MoreAngkuhlah Satu

Jumat, 17 Oktober 2014

The Regular (missed) Call

The regular call?
Twice promised.

The regular call?
Came and danced between ears and heart
Yesterday, came and stayed longer..

As a regular call..
Though just a monologue then

Read MoreThe Regular (missed) Call

Senin, 07 Juli 2014

Sang Maha Guru

Memories bring history, plans bring future

Mengapa aku tulis kalimat itu, ya karna itu yang terpikir di kepalaku. Saat banyak yang mengucap 'sudahlah itu cuma masa lalu', aku justru punya pandangan lain bahwa masa lalu tak boleh di'cuma'kan seremeh itu. Ibarat kendaraan bermotor, kaca spion tak boleh diabaikan. Mungkin bisa diabaikan, tapi berpeluang mencelakai lalu lintas. Walau tak perlu dilirik terlalu lama, spion punya andil cukup besar untuk keselamatan berlalu lintas. Ya perlulah ditengok biar mawas diri :-)

Masa lalu itu sama dengan sekarang di hari kemarin, sama seperti hari ini yang sepenuhnya bermakna di saat ini. Dari masa lalu muncul pelajaran untuk lebih mengerti mana saja yang bernama Kesalahan, karna ia harus dihindari demi lancarnya pencapaian harapan di hari ini untuk masa depan. Mungkin 'harga' dari sebuah masa lalu berkurang hari per hari ke depan bila dibandingkan dengan masa sekarang, bahkan masa depan. Tapi bagiku tetap saja masa lalu tak boleh diremehkan. Ia selalu ber'nilai'. Bagiku, nilainya terlampau tak mampu digambarkan :-D

Akhir adalah hasil dari proses masa lalu dan masa sekarang

«     Future = (e1+e2+e3.......)/n     »
       e1->en= effort in past till now = process
       n           = time (1+2+3+...)
Seperti indeks prestasi, memang yang ditanyakan adalah hasil terakhir, tapi hasil terakhir adalah akumulasi dari indeks prestasi terdahulu sampai sekarang. Pun demikian, Akhir lah yang dilihat dan dinilai. Akhir yang terlihat dan kasat mata. Tapi Akhir perlu melihat proses.

Tom Cruise's Edge of Tomorrow

Beberapa bulan lalu sehabis nonton film Edge of Tomorrow-nya Tom Cruise, berasa de javu aja. Film itu seakan menasehati aku sebagai penontonnya. Bahwa masa depan tak langsung turun dari langit, ia ada dari masa lalu ditambah masa ini. Masa lalu tentunya lebih dari sekedar foto yang dipandangi, lebih dari sekedar buku sejarah yang hanya dihafalkan. Ia berjasa. Seperti sejarah yang tak layak dilupakan, karna ia yang melahirkan masa ini, ia berjasa untuk hari ini.

Tom Cruise dalam perannya kembali mengulang masa lalu demi memperbaiki nasib yang akan didapatinya di masa depan. Ia yang berbekal die to live power saja terlihat begitu kesulitan hingga dibutuhkan pengulangan yang berulang-ulang. Kuncinya adalah mengambil pelajaran dari masa lalu. Setiap kali ia hidup dan gagal memperbaiki nasib, ia akan mengulangi mati demi bisa hidup di masa lalu dan kembali berjuang. Dari pengulangan hidup-mati itu ia ambil pelajaran yang kemudian membantunya mencapai tujuan (read: Future).
Jika ada kurang di masa lalu, maka harus ditutup dengan kerja keras untuk perbaikannya di masa ini, bukan menutupnya tanpa solusi.
Seperti cermin, berkacalah, amatilah, lalu berdandanlah hingga merasa cantik. Masa lalu itu cermin, akan mengingatkanku untuk introspeksi, akan menasehatiku untuk memperbaiki diri, akan mendewasakanku menggali solusi.

Ah, masa lalu :-) kenangan, guru, sejarah.
Tak perlu disesali, cukup dimengerti mana-mana yang perlu diperbaiki. Jangan sampai dilupakan, karna ia Maha Guru dari waktu ke waktu.
Today is so precious as a key for the future. And so does it. It is so precious as today in yesterday.

Entah apa yang buatku menuliskan ini :-D Mungkin, aku mulai lapar #eh
:-D
P.S Selamat menunaikan ibadah puasa :-)

Read MoreSang Maha Guru

Sabtu, 05 Juli 2014

I was just us who stand alone as me

I was just a shadow,
getting close but too far to meet

I was just two kinds,
wishing closer but too far to be

I was just part of me, 
when we were two of a kind

I was just something on u, 
if us was one of two

Read MoreI was just us who stand alone as me

Rabu, 28 Mei 2014

Aktris

Sejak kapan aku jadi artis?
Menyembunyikan luka, menahan tangis, tersenyum lebar dengan rapi.
Siapa pula yang mengajariku berakting?
Menyimpan sepi, mewujudkan sosok imajinasi.
Tanpa lawan bicara, menghasilkan kreasi monolog dalam puisi.

Untuk siapa aku berakting?
Menampakkan tawa lalu tersentak diam, berbicara panjang sendirian.
Kenapa pula penonton terlalu menghakimi?
Menghimpit akting dengan keegoisan.
Melempar paksaan pada naskah yang kupunyai pribadi.
Bait-baitnya sudah kumainkan, kugerakkan badan dalam adegan.
Kata-katanya sudah kuucapkan, kurangkaikan monolog dalam beberapa barisan.
Sampai kapan aku jadi aktris?
Membentuk muka, membacakan cerita, memperagakan kisah.
Dibatasi hitungan dalam adegan, membawa raut senang-sedih bersamaan.

Untuk apa aku berakting?
Membaca naskah dibelakang punggung.
Berlatih adegan selama mata menutup.
Perlukah menipu diri?
Sejatinya penghiburan lah yang kucari.
Demi senyum yang menyehatkan hati.

Read MoreAktris

Tentang Warna

"...pelangi itu ada tujuh warna tapi enggak berantem, ada harmonisasi" kata Iwan Fals (source: http://www.tribunnews.com/seleb/2014/03/02/pelangi-dari-iwan-fals-untuk-indonesia)

Aiiih :-) suka sekali dengan kata-katanya Om Iwan. Jadi berasa ada yang sehati-sepemikiran nih hihi karna aku juga gak jarang pake istilah warna dalam beberapa analogi. Well, mari lanjut bahas tentang warna :-)

Pernah gak nemu pertanyaan tentang warna fav ato warna kesukaan? Mungkin orang-orang bisa dengan gampang jawabnya ya. Tapi gak denganku. Bagiku itu tergolong pertanyaan yang perlu pemikiran cukup lama untuk kujawab.
Kupikir ya, semua warna itu indah, dari putih sampe hitam, dari warna cerah sampai gelap, dari satu warna sampai gradasi beberapa warna. Dan memang semua warna itu menarik.

Mungkin karna itulah aku selalu memakan waktu cukup lama tiap harus menentukan warna.
Saat beli baju, beli kerudung, beli sepatu, beli tas, beli lipstik,, aku selalu makan waktu cukup lama bukan saat memilih model tapi justru saat memilih warna. Dan aku slalu minta pendapat siapa aja yang di sampingku, meskipun gak kenal hehe. Dan, belum tentu juga yang disaranin sama orang lain itu yang akan kupilih, bisa jadi warna lain yang aku ambil (njengkelin banget keknya ya :-P ). Keliatan lah kalo aku memang selalu galau tiap milih warna, karna bagiku, semuanya bagus, dan sayangnya aku cuma akan ambil sa-tu hihihi.

Everything is Created So Special..

Semua warna memang indah dipandang, semuanya punya ke-kece-an masing-masing lah ya, walopun jelas antara merah ama ijo itu beda. Trus ni, saat marahan ato crash sama orang lain, pernah gak mikir kalo memang akan terjadi seperti itu?
Kalo bagiku ya, everything is created so special. Karnanya akan ada hal yang berbeda dari tiap orang dengan yang lain. Akan aneh saat baju merah dipadupadankan dengan celana ijo. Begitukah saat dua kepribadian berbeda dipaksa menyatu?
Gak akan ada yang sama persis, gak akan ada yang sepanjang umur tanpa konflik. Yes, that's why  aku pikir aku harus selalu me-lebar-panjang-luas-lapang-kan dadaku :-) Akan selalu ada hal dariku yang beda dari orang lain, bahkan gak disukai orang lain. Begitupun sebaliknya.
Kupikir akan selamanya begitu, karna memang setiap ciptaan tu berbeda. Titik-titik pembeda inilah yang berpeluang bikin konflik jika gak saling meredam satu sama lain.
Ada nih yang bilang kalo perbedaan ato ketidakcocokan dijadiin alasan perpisahan pasangan, emm itu udah ranah privasi sih ya, aku gak mau ikut campur, cuman kalo bagiku perbedaan itu ya something yang gak bisa dienyahkan. Mungkin lebih baiknya diselaraskan, diharmoniskan :-) Ibarat kalo tadi pake baju merah trus celananya ijo kan aneh, si aneh yang bakal jadi pemicu konflik ini bisa kok diselaraskan dengan cara pake jilbab yang mengandung dua warna itu. Ato pake apalah ya, yang pasti setiap perbedaan itu indah asal diselaraskan :-)
Dan tau gak, Selaras dan Harmoni ini ilmunya berat lo ya. Susaaaahh bingit. Makanya, dalam seumur hidup, tiap orang akan selalu mempelajari hal ini.
Kalo udah, indah deh pasti. Kayak pelanginya Om Iwan :-) bertujuh, beda-beda tapi bersampingan, membaur, menjadi harmonisasi warna.

Pelangi Sebagai Wujud Tenggang Rasa dari Perbedaan

Well, tau gak sih kalo ijo itu asalnya dari kuning ama biru? :-)
Trus item itu dari merah ama ijo, emm oren dari merah ama kuning? dan seterusnya ya.. Ada juga warna yang disebut warna dasar/inti, kalo gak salah, merah-kuning-biru. Ada sih istilah yang lebih tepat utk gantiin merah dan biru yaitu magenta dan cyan, but I prefer nyebut merah ama biru biar gampang (ngeyel bingit -___-) 

Oke deh, coba yuk diliat si pelangi, kita absenin atu-atu.
Merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu.
Kalo diambil warna intinya yaitu merah, kuning, biru,, tinggal jingga ama hijau ama nila ama ungu yaaa. Padahal jingga ato aku manggilnya oren (kalo emak-emak biasanya manggilnya oranye gitu XD ) itu dari perpaduan kuning ama merah kan ya.. Tapi tetep aja tuh berdiri kokoh sebagai bagian dari pelangi.
Trus napa gak warna inti aja ya yang jadi pelangi? Haha banyak tanya! :-X emm, bagaimanapun makin banyak beda itu justru makin indah, asal selaras dan harmonis, menurutku.

Antara merah dan kuning disisipin si cantik jingga. Sebenarnya si jingga ini adalah bauran merah ama kuningnya. Kalo di istilah matematika, si jingga ini irisan dari merah ama kuning. Kalo di istilah ku sendiri :-P si jingga inilah bentuk tenggang rasanya dari perbedaan yang ada.
So, daripada konflik lebih baik diselaraskan, diharmoniskan :-) indah banget kan kalo bisa nghasilin bauran warna? :-)

Begitulah, aku bukan pelukis sih. Aku gak bisa rapih baurin warna. Tapi paling gak, aku cukup tau, kalo antara satu warna dengan yang lain selalu ada jembatan pengharmonisasian, asal aku (lebih tepatnya kedua belah/semua pihak) mampu bertenggang rasa :-)

Salam warna, salam pelangi!
Cc @ibu peri

Read MoreTentang Warna

Minggu, 25 Mei 2014

Kamilah Rumah

Kamilah rumah.
Di sebuah petak tanah, berpondasi, berpintu dan beratap.
Tibalah meja kursi, lemari, dan macamnya mengisi. Lalu dihiasi bening porselen dan pelangi di dindingnya. Lalu tibalah tanaman, dapur dan makanan, buku buku, kacamata, hingga hati dan jiwa.

Kamilah rumah.
Berawal satu satu lalu menyatu.
Bukan benar jika kami seragam, karna kami berbeda rupa, berbeda warna, berbeda suara, berbeda tekstur. Namun kamilah satu satu yang menyatu, berbeda bak dua sisi dalam satu logam.
Kami berbeda, tapi kami menyatu. Maka berawal satu satu, kami kini satu, saling menguatkan sebagai pondasi, memayungi sebagai atap, meneduhkan, melindungi, mempercayakan tidur dalam tenang.

Kamilah rumah.
Karna jarak tak pernah bermakna. Pintu saksi penyatuan, menggiring satu-satu, menerima aneka rupa, menyatukan di dalam, tanpa jarak tanpa strata.
Meski emosi, ego, lalai, tak selalu terhindar,, pintu saksi penyatuan, menerima segala beda, mengasihi dengan sama, mengharmoniskan ketidaksamaan.
Kesibukan pun tak jarang merampok waktu, menomorduakan kebersamaan, merenggangkan ikatan.
Namun tak akan kemana pun tujuan pulang, selain pondasi kokoh, atap yang teduh.
Tak ada lagi yang dapat menggantikan rasa jika pulang menenangkan jiwa, membahagiakan hati.

Karna kamilah rumah, tempat berasal dan selalu kembali pulang.
Karna kamilah rumah, tempat yang menerima perbedaan dalam keharmonisan.
Karna kamilah rumah, tempat yang selamanya dirindukan.

Read MoreKamilah Rumah