Kamis, 19 Desember 2013

Layang-layangku

Di kendaraan, sambil pandangan berfokus ke jalanan, tangan-tanganku siaga, kepalaku mengulurkan tali Layang-layang. 

Layang-layang yang putih transparan tak tersentuh warna. Ia jauh melayang, mengudara, mengangkasa. Ia bercerita kepada Awan, tentang pagi yang beragenda, tentang waktu yang berlari, lalu tentang perasaan yang sepi.

Saat jalanan padat, tangan-tanganku sigap, lalu kepalaku menarik tali Layang-layang. 
Layang-layang hinggap ke pikiranku, dan terdiam. 
Read MoreLayang-layangku

Senin, 02 Desember 2013

Langit-langit

Dulu aku suka melompat-lompat di tempat tidur susunku demi menempelkan sticker di langit-langit.

Aku sering berkedip-kedip dan tak bosan memandang langit-langit saat pagi datang namun ngantukku belum tuntas.

Aku selalu memandang langit-langit di tempat yang baru kukunjungi.

Aku selalu melukiskan huruf per huruf di langit-langit dari paragraf-paragraf panjang yang muncul otomatis ketika aku butuh kawan.

Aku selalu bisa cepat menghentikan tangis dengan mengajak langit-langit berbicara.

Aku sering merasa tenang dengan memandang langit-langit, lalu memejamkan mata dan tersenyum.

Saat usiaku tujuhbelas adalah saat pertama aku mampu mengakrabkan diri dengan langit-langit kamar baru, kamar kos.

Tahun-tahun sebagai mahasiswa, langit-langit adalah kawan yang menenangkan dalam diam. Antara lelah, ngantuk, dan kewajiban yang masih menanti.

Dan malam ini, disaat mata sulit dipejamkan, langit-langit tersenyum ramah. Memberiku rasa penasaran, kenapa kau bernama langit-langit? Apa tak bisakah jika kau langit-langit, maka lantai adalah bumi-bumi?

Lalu aku pilih turun ke lantai bersama bantal selimut dan tab. Aku tuliskan apa yang ingin kusampaikan tentangmu.
Sambil menikmati berteman dengan bumi-bumi dan langit-langit, aku coba tutup tulisan ini dengan sebuah senyum dan doa :-)

Tuhan, tidurkanlah hamba. Hapuskanlah sesal, kecewa, dan sakit yang tersisa,, lalu bangunkanlah kembali hamba dalam hidup yang lebih bermanfaat dan berkawan bahagia.
Aamiin.

Read MoreLangit-langit

Selasa, 01 Oktober 2013

Jarak, Aku Marah Padamu!

Hai Jarak!
Aku marah padamu.

Hai Jarak!
Kau buatku sendirian.
Kau buatku kesepian.
Kau buatku kerepotan.
Kau buatku kelimpungan.
Kau buatku kesulitan.

Hai Jarak!
Akan kubalaskan dendamku.
Akan kuhapuskan kau dari masadepanku.

Hai Jarak!
Aku marah padamu!!
Read MoreJarak, Aku Marah Padamu!

Selasa, 27 Agustus 2013

Hai Wanita, kau itu wanita


Bukankah menyayat hati, seorang ibu yang tak berperan sebagai ibu?
Bukankah memilukan, seorang berumah tangga namun hampir selalu sendirian karena pekerjaan?

Lalu jika dituliskan tentang Kewajiban,
maka cukuplah wanita-wanita berdiam di rumah, menjalani dan memenuhi kewajibannya sebagai wanita yang utuh. Tak perlu mengobsesikan puncak prestasi, puncak karir, kesuksesan materi.
Lalu jika dipahatkan tentang Kodrati,
maka cukuplah wanita-wanita menjadi dan mengabdikan diri sebagai ibu yang berperan utuh. Tak perlu terobsesi berperan menjadi ayah, yang menafkahi, mengumpulkan materi.

Bukankah Tuhan Maha Adil dan Bijaksana, sehingga dilahirkan keturunan dari seorang wanita dan seorang pria.
Karena wanita lah sosok ibu,
karena pria lah sosok ayah.

(dari hati wanita yang dilema)
Read MoreHai Wanita, kau itu wanita

Minggu, 14 Juli 2013

Si Krem ku sayaangg

Kenalin nih, Si Krem, salah satu sepatuku yang udah berumur tapi masih kuat dan setia melindungi kakiku (h)
#sampe pertengahan Juni lalu


Ceritanya begini ni, waktu itu adalah perjalananku dengan bus ke Semarang yang kesekian kalinya. Aku berangkat dari terminal deket rumah dengan menjinjing dua tas full isi plus beratnyooo uh huf huff.



Eitt itu belum semua loh. Bawaanku lengkapnya ada tiga; dua tas jinjing sama satu tas gendong huaaahh semuanya overweight. So, bisa dong dibayangin gimana perjuangan aku (baca: si 'kecil' #badannya) jalan dengan semua tas gendut itu :-b


Untungnya semangatku juga gendut hihihi jadi ya walo keringetan keliatan ribet-grusak-grusuk plus kebanyakan bawaan, teteeep pasang muka cool 8-)

Perjalanan menuju ke Semarang waktu itu (dan biasanya) makan waktu tiga jam. Ini pake bus ekonomi brooo, nyang full AC a.k.a Angin Cendela wkwk.


Aku dari jaman sekolah lebih milih bus ekonomi daripada patas. Emm lebih gesit aja sih, walooo sebagai penumpang pastinya dibikin dagdigdug dan jadi sering-sering dzikir dengan kelakuan pak sopir yang wuuuhh gesiiitt salip kanan-kiri @-) belum lagi nyiapin receh buat pengamen dan bersiap pasang muka innocent kalo recehnya habis tapi pengamennya estafet mulu hedeeehh.

Biasanya aku juga lebih suka milih duduk ma bapak-bapak yang keliatan cuek dan sibuk, kali itu juga sih eh tapi meleset bro. Dari pandangan awal kupikir cuek, ternyata malah tumpah-tumpah deh ramahnya. Bayangin deh ngajak ngobrolnya nggak pake berhenti dari pertama aku naik sampe si bapak turun bus :-s

Si bapak juga bawa barang lumayan ribet (tapi masih ribet punyaku huhu) dan pas si bapak mau turun, nahhh repot lah. Barang bawaan kami yang sama-sama gendut susah tuh ditariknya, apalagi posisi bawaannya si bapak di bawah tas-tas ku. So, si bapak berdiri dulu dan aku yang ambilin bawaannya. Dan, that was the time to say goodyeeeee huff syukur pikirku.


E tapi yah, aku udah ngrasa ada yang janggal tuh. Tas jinjingku yang warna merah (aku bawa dua tas jinjing; merah dan biru) kok kayak lebih langsing ya.. Tapi aku cuekin aja karna kepalaku agak nyut-nyutan dan butuh tidur bentaran nih badan (p)
Dan sampelah bus ekonomi yang kunaiki di Terminal Terboyo, turunlah aku. Udah nyut-nyutan ni kepala, langsung deh cari angkutan lokal menuju TKP.

Sampai di TKP, aku mandi dan ganti pakaian untuk bergegas menuju kampus. Dan tralalaaaaa, eitt mana nih mana Si Krem-ku huhu kok nggak ada yak. Kucari lagi sampe aku keluarkan semua isi tas. Hffffffff nihil :o ilang ya sepertinyaa.
Mungkin jatuh sewaktu kerepotan di bus terjadi huhu ya sudaaahlah yaaa. Bisa beli lagi..
Sebenernya sih bukan masalah harga ato beli lagi,, ta-tapi, ini masalah perasaan #eh b-(
Aku udah lama dan sering tuh kemana-mana pake Si Krem, eh sekalinya aku pake sandal dan Si Krem ku masukin tas malaaaaah jatuh di bus. Ya sudahlaaaah.


Untung ya brooo sewaktu aku mampir dan muterin Candi Mendut (check here http://erinanormasari.blogspot.com/2013/05/si-mungil-candi-mendut.html) aku sempet jepretin Si Krem hihihi.
Jadi lumayan lah ada dokumentasi dan bisa kuceritain nanti sama Si Krem yang baru hehe aku beli lagi sepatu warna krem broo, tapi sih nggak mirip banget ma pendahulunya, cuman ya adalah miripnya dikit-dikit hihi. Kenapa warna krem? Karna aku suka sama warna krem terutama untuk sepatu, emm manis gitu keliatannya :)



Read MoreSi Krem ku sayaangg

Rabu, 10 Juli 2013

Nginget-inget Aksara Jawa


[yo'pºknC[folnnHi=jb,

pd=wulnPdzekyrin,

remB|lneaesi=awe-awe,

zelizkeajpdturu[sore,


[yo'pºknC[folnnHi=jb,

rme-rmekeneakehknCne,

lzitepnCenSumeb-/rin,

[yopd[folnnSinmBigu[yonn¿. 

Waah seneng rasanya bisa inget-inget Aksara Jawa lagi :) hihi.. Oya tau nggak tulisan di atas bacanya gimana? :D hayooo yang Jawa tulen gimana nih heehe.
Kebetulan hari ini aku lagi free alias nganggur alias nggak ada kerjaan. Tadinya iseng-iseng aja corat-coret pake Aksara Jawa. Eeeeh ternyata pikunku kumat huhu uda lupa sama yang namanya pasangan, huruf vokal, de el el. 

Dulu sewaktu masih hobi nulis Aksara Jawa, sampe buku harian pun aku coretin pake Ha-Na-Ca-Ra-Ka walo masih nyontek-nyontek sih hehe. Begitu udah merasa besar [udah 20's ni, besar tapi belum tua lo ya] aku merasa miris banget, dan hari ini baru nyadar guys. Aku terlalu terobsesi buat nglancarin English, tertarik mendalami bahasa Jerman, masih juga kepingin bisa bahasa Korea, Jepang, belum lagi bahasa-bahasa negara lain nyang kemungkinan menyusul aku obsesiin #tamakk b-( 
Eh begitu hari ini sadar kumat pikunku tentang Aksara Jawa, ampun deh ampun, maaf beribu maaf, huhu aku bersedih atas nama budaya Jawa, apalagi kulo tiyang jawi ;( Saya menyesal.

Berbekal penyesalan itu aku coba searching internet tentang Aksara Jawa lengkap :) Dan Alhamdulillah lumayan banyak sumber yang menyajikannya. Setelah ku pikir ya guys, sebelum melanglang buana ke luar negeri, ada baiknya pahamin nyang di dalam negeri dulu, nyang lokal dulu [-( #nasehatindirisendiri hehe. Ya kalo nggak kita-kita yang notabene generasi muda ya siapa lagi? Ya nggak? 

Ini guys, aku kasih kuncinya, Aksara Jawa di atas bacanya begini nih.. 

Yo 'pra kanca dolanan ing jaba
padhang wulan padhange kaya rina
Rembulane e sing awe-awe
ngelingake aja padha turu sore
Yo 'pra kanca dolanan ing jaba
rame-rame kene akeh kancane
Langite pancen sumebyar rina
yo padha dolanan sinambi guyonan #CMIIW

Itu lagu dolanan Jawa guys. Padang Mbulan judulnya :) Sewaktu masih duduk di Sekolah Dasar, aku sering nih nyanyiin lagu ini di pelajaran Kesenian (f) 

aerin[n/omsri [kalo ini namaku, tapi karna aku masih dasar banget dalam penggunaan Aksara Jawa, jadi masih meragu ni antara bener dan salah hehe].

Oya karna pas banget ma momen buka puasa, aku sekalian ni mau ngucapin.. 

selmtBe/buk,sug_nFlu [dibaca: selamat berbuka, sugeng ndalu CMIIW]. 

Udah mulai keinget kan apa-apa aja Aksara Jawa itu? Oya di wikipedia juga udah lengkap loh guys. Yuk nguri-uri kabudayaan jawi (o)
____________________________________________________________________

ps. Perlu download aplikasi Aksara Jawa untuk bisa membaca Ha-Na-Ca-Ra-Ka di atas :))
http://hanacaraka.fateback.com/
Sedangkan aku sendiri memakai aplikasi Hanacaraka V 1.0 untuk mempelajari lebih jauh #ada konversi instannya loh hihi x-)
http://sofyanspensagres.blogspot.com/2013/05/download-hanacaraka-v-10.html



Read MoreNginget-inget Aksara Jawa

Rabu, 01 Mei 2013

Si Mungil, Candi Mendut

Sepulang dari ngurus SKCK di Polres Magelang, hari itu, aku berniat menyambangi Candi Mendut. Walo terik membakar kulit, cuek aja, yang penting hepi :)

Tiket masuk candi relatif murah, hanya dengan IDR 3000 aku udah bisa parkirin si Hipo #motorbututku di area candi dan bebas muterin sekomplek wisata sambil jeprat-jepret.

Ini tampilan candi dilihat dari samping, dari depan deretan kios cinderamata.








































Komplek wisata Candi Mendut ini terbilang sepi, nggak tau kenapa, apa karna kalah pamor sama sepupunya a.k.a Candi Borobudur? 8-) emm entahlah.

Yang jelas walo sendirian, walo suasananya sepi, aku enjoy dan sangat hepi bisa muterin si mungil ini.

Di dalam komples Candi Mendut terdapat Candi Pawon yang belum lama ini situsnya ditemukan.







Naik ke atas Candi Mendut, tak beda dengan Candi Borobudur maupun Candi Prambanan, dinding candi pun berhias relief yang sarat sejarah.







Candi Mendut ini memiliki kemiripan dengan arsitektur Candi Prambanan, hanya saja di dalam komplek wisata Candi Mendut hanya berdiri sebuah candi [diluar Candi Pawon].




Candi Mendut berada tepat di pinggir jalan raya dan di antara rumah warga. Tak heran kalo terkadang terdapat anak-anak kecil yang bebas bermain di halaman candi.


Tepat di sisi jalan terdapat sebuah pohon beringin tua yang memang sudah lama menemani si candi mungil ini. Terdapat pula penjaja es kelapa muda di sekitar pohon tua itu. 


Hari itu meski terik, aku cukup puas mengitari komplek candi ini. Sangat memuaskanlah dengan hanya IDR 3000 :-d  





Read MoreSi Mungil, Candi Mendut