Rabu, 20 Desember 2017

Oh Uno, Si Uno

Uno & His Sister, My Very First Pets (?) 

Uno, kucing berbulu coklat ini dulu lahir di teras rumah, ditinggal induknya. Bersama sodaranya yg berbulu hitam, Si Okta.

Awalnya karena iba, saya dan suami biarkan mereka tinggal di teras.
Lalu suami mulai siapkan tempat yang lebih proper untuk mereka tinggal, semata-mata agar bayi-bayi kucing ini hangat dan terhindar air hujan.
Saya pun mulai menambahkan makanan instan kucing ke dalam daftar belanja bulanan, semata-mata memberi mereka makan di usia mereka yang masih kecil dan tanpa induk.
Lalu mereka pun terbiasa makan dan tidur di teras sejak hari itu.

Pernah sekali dua kali mereka berteriak kencang sebelum subuh, kehujanan bermain di rumput. Karena belum lancar berjalan, mereka kesulitan meneduh dan hanya bisa mengeong meminta bantuan. Suami saya pun bangun dan mengangkat keduanya dari rumput dan hujan, mengembalikan ke tempatnya.

Setelah mulai bisa berjalan, mereka mbolang dari pagi hari mencari makan di luar dan kembali di sore/malam hari saat kami pulang rumah.

Entah mereka ini kucing peliharaan atau kucing numpang tinggal, tapi mereka selalu setia untuk kembali setiap hari.

Mereka Kucing yang Manis

Saya yg tadinya geli lihat kucing, mulai terbiasa melihat, dibuntuti dan memberi makan kedua unyil ini. Meski saya masih selalu kaget dan menghindar saat kaki diglendoti.

Mereka ini lucu, unyu, seakan ngerti kapan jam main dan jam makan. Tak pernah pup dan pee di rumah kami, entah dimana. Tak pernah nyelonong masuk ke rumah, mereka ngerti dimana 'kasur' dan wilayah mereka. Tak pernah mengganggu, sungguh! ๐Ÿ˜Š

Mereka selalu pulang setiap dengar pagar rumah dibuka oleh saya maupun suami, seperti mengerti bahwa jam makan malam sudah tiba.

Herannya, mereka hafal ntah dengan suara atau wajah kami. Setiap kami baru melewati pintu komplek pun, mereka sudah pasti berlarian masuk ke teras rumah dan mengeong bersahutan.

Manis sekali ya. 

Makin Besar, Makin Sulit Diatur

Tumbuh agar besar, keduanya sudah mulai berpindah tempat untuk tidur, kadang ke teras, kadang tidak. Namun mereka masih selalu menyambut kepulangan kami tiap malam, minta jatah makan.

Hari berganti hari, mereka membesar dan dewasa. Kalau kata suami, seperti manusia, makin besar makin sulit diatur. 

Awalnya Si Uno yang sudah dewasa bosan dengan makanan instan yang selalu tersedia di toples di teras rumah. Dia mulai tak mau makan, pun dengan sodaranya. Mereka masih selalu kembali saat kami pulang, meski hanya duduk mengendus tanpa mau makan. Meskipun kami sudah mengganti dan menyesuaikan makanan dengan usia mereka. 

Kedua kalinya salah satu dari mereka ketahuan pee sembarangan lebih dari satu kali, parahnya di atas sepatu suami yg sedang dijemur di teras. Mulailah kami ngomel. 

Ketiga kalinya Si Uno menjatuhkan tong sampah, membuka tutupnya (hebat ya) dan mengacak-acak isinya. Saya suruh pergi, dia bandel. Malah datang sodaranya yang kemudian ikut 'bermain'. Saya percikkan air, keduanya hanya mundur sedikit lalu maju dan mengulanginya lagi. Saya percikkan dua-tiga kali lalu mereka pergi. 

Keempat kali, Uno masuk rumah mencari lemari untuk sembunyi dan dengan susah payah saya berhasil membuatnya kembali ke teras. 

Mereka Kucing Bebas, Bebas Datang dan Pergi

Esok harinya, unyil - unyil yang sudah dewasa ini tak lagi berlarian menyambut kami di teras๐Ÿ˜ tak lagi datang untuk makan malam, tak lagi mengeong.

Hanya sesekali saat kami pulang, mereka duduk di dekat pagar, lalu pergi lagi. Sesekali juga masih suka tidur siang di teras atau di bawah jemuran.
Yang paling sering, bermain panjat pagar dan tiduran di atap rumah.
Mereka kucing yang bebas, tak ada yang memiliki, siapapun bebas menyayangi dan kasih makan, dan mereka bebas pergi kemana saja bahkan keluar komplek.

Meski begitu duo unyil ini masih selalu ada disini, bersama kami, diomelin dan juga disayangi. ❤️❤️❤️
Read MoreOh Uno, Si Uno

Minggu, 19 November 2017

Aku Api Kali Ini

Api, melompat-lompat kegirangan
Meluap percikkan padat harapan
Menjalar-ratakan kekuatan 
Hangat-memanas jiwa matangkan 
Berbatas ketidakterbatasan
Membakar bara titik perjuangan 
Bergegas kuasai harap tujuan 
Berselimut nyala terang sepanjang kehidupan

Read MoreAku Api Kali Ini

BUKAN CADAR


Bukan cadar 
Hanya penutup wajah di keramaian

Bukan cadar 
Hanya dikenakan di kerumunan tak dikenal 

Bukan cadar 
Hanya tameng pandangan orang lalu lalang

Bukan cadar
Hanya pelindung ketidaknyamanan
Read MoreBUKAN CADAR