Selasa, 05 Juni 2018

SEPADAN (?)

LAIKNYA CERMINAN

Tuhan ciptakan boomerang atas perilaku kita.
Indah akan berbalik indah.
Baik akan berbalik baik.
Dan sebaliknya.
Berperilakulah setelah dipikirkan, agar dampak yang kembali tak merugikan.

Memang naluriah, untuk membalas tindakan buruk orang. Bahkan membalas dengan lebih buruk karena ditambah rasa sakit yang pernah diderita.
Saat itu sebetulnya hati tau bahwa berburuk laku akan berbalik sama, meskipun itu ekspresi pembalasan. Kita akan terima siksaan batin, perasaan benci yang merenggut kedamaian.
Dan bolehlah ini disebut keburukan yang dituai atas balas dendam.
Tak akan berakhir lingkaran ini tanpa dihentikan dengan kebaikan. Melepaskan rasa benci, mengikhlaskan keburukan dan melupakannya akan jadi langkah paling tepat. Karna hal baik berupa kedamaian hati dan ringannya jiwa akan diterima seketika sebagai hasil dan imbalannya.

Beberapa kasus kriminal yang beritanya beredar luas pun, merupakan bagian dari balas dendam. Namun sang korban memilih langkah buruk dengan membalas dendam. Pada akhirnya mereka lah pihak yang paling sengsara. Korban yang menjelma menjadi pelaku tindak kriminal.

Boomerang perilaku akan selalu berputar mengikuti lemparan. Akan berhenti jika lemparan yang dilakukan adalah hal baik. Saat keburukan dibalas keburukan, boomerang akan terus berputar menuaikan hasil-hasil ketidakbaikan.
Meski terdengar seperti mengalah, sejatinya memaafkan adalah perbuatan baik yang sangat mulia. Selain menghentikan putaran buruk boomerang, pun akan menuai kebaikan lain yang menghangatkan hati. Bukankah pemenang selalu muncul di akhir?

TAK SELALU SEUKURAN

Saat kakak meminta uang saku dan sang adik merengek hal yang sama, orang tua belum tentu memberi nominal yang sama banyak.
Adil tidak bisa dilihat satu langkah.
Karna dibalik hal selalu ada alasan berbeda. Dari alasan ini, porsi adil akan disesuaikan.

Kedewasaan watak dalam memahami kondisi, kecerdasan emosi dalam menimbang permasalahan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusaan akan jadi penentu ukuran yang adil dan sepadan.

TAK SAMA DI BEDA MATA

Relatif.
Iya, beda indera menghasilkan beda pandangan.

Cantik, wangi, lembut, enak, merdu.
Mereka memiliki level tak terbatas. Bukan variabel dummy yang bisa dinilai sebatas cantik atau tidak, wangi atau tidak, lembut atau tidak, enak atau tidak, merdu atau tidak.

Memberi dua reward yang sama mahal, sama bentuk, sama indah; belum tentu adil dan sepadan kepada sepasang kembar meski rupa identik dan terlahir dari rahim yang sama.

Pandangan orang per orang akan selalu berbeda. Meski dapat dibatasi definisinya, namun memiliki pola nilai yang bebas dan sangat luas.

Maka teguhlah pada prinsip dan hiduplah berkarakter kokoh. Disana akan tercetak definisi nilai dari hal abstrak sekalipun. Sehingga nilai yang terucap akan selalu diikuti penjelasan yang bijak dan rasional. Jika berhadapan dengan pandangan orang yang berbeda, maka tak akan goyah sedikit pun.

LAIKNYA PERBANDINGAN

Kenapa ada utara, karna ada selatan.
Kenapa ada muda, karna ada tua.
Kenapa ada baik, karna ada buruk.
Adalah hal-hal yang berbanding terbalik, berbeda, tak satu, tak sama.

Jika merasa kehilangan atas apa yang sudah keras diupayakan bahkan dipaksakan, bisa jadi sebab berada di sisi sebaliknya. Jika merasa harus tetapi tetap tak memiliki, bisa saja hal yang diharuskan itu berada di sisi berbeda.

Minyak tak dapat disatukan dengan air karna berbeda masa jenis. Ada hal-hal yang tak bisa disatukan, yang sangat prinsip. 

Untuk menyadarinya diperlukan introspeksi diri, menilai apa yang berbanding terbalik, karna di dunia ini Tuhan pun ciptakan hal yang saling bertolak.
Selama berada di  antaranya, maka tak akan ada kata adil dan sepadan, karna mendekati pun tidak, bahkan saling berjauhan, berbanding terbalik, bertolak belakang.

LAIKNYA PENYATUAN

Bukan yang berbanding terbalik, bukan pula bertolak belakang. Tidak sama namun hanya berbeda.

Ada dimensi peleburan di antara dua variabel berbeda. Tak semua menyatu, hanya sebagian, bernama irisan.
Pembeda -  pembeda yang ada akan saling menyesuaikan, melebarkan dan memperluas gabungan dua dimensi.

Saat menyadari sering berbeda pendapat, berbeda kegemaran, berbeda orientasi sosial.
Bisa jadi Tuhan jodohkan, untuk penyatuan, penguat satu sama lain.
Diantara dua individu yang berbeda, asal bukan berbanding terbalik dan bertolak belakang, selalu ada dimensi penyatuan. Irisan antara dua individu menjadi penyatu atas segala perbedaan yang dimiliki dua dimensi berbeda.
Read MoreSEPADAN (?)

Senin, 04 Juni 2018

JIWA MEMILIH


BANGGA YANG BERBEDA

Setiap jiwa ada yang dibanggakan: 
prestasi, harta, kemolekan.
Tapi tak banyak yang terpesona, jatuh hati dan bangga pada sisi sebaliknya:
keterbatasan, ketidakmampuan, ketidaksempurnaan. 


BELAJAR SEPANJANG WAKTU 

Diciptakan waktu agar para jiwa belajar, membaca masa lalu, menilai langkah, memberi pilihan untuk hari depan. 
Seiring matangnya zaman dan bertumbuhnya para jiwa, akan muncul pertanyaan atas mana yang akan diutamakan. Budi, prestasi, harta, kemolekan? 


KEGEMERLAPAN DAN KESEDERHANAAN

Diberikannya hati untuk memutuskan, mencintai kegemerlapan atau kesederhanaan. 


BERSYUKUR DAN BERBAHAGIA

Saat naluri menjawab, maka jiwa sedang belajar. 
Belajar melihat kesederhanaan dan kerendahanhati lebih teliti, untuk membuka mata dan hati lebih lebar menatap keindahan.
Read MoreJIWA MEMILIH