Kamilah rumah.
Di sebuah petak tanah, berpondasi, berpintu dan beratap.
Tibalah meja kursi, lemari, dan macamnya mengisi. Lalu dihiasi bening porselen dan pelangi di dindingnya. Lalu tibalah tanaman, dapur dan makanan, buku buku, kacamata, hingga hati dan jiwa.
Kamilah rumah.
Berawal satu satu lalu menyatu.
Bukan benar jika kami seragam, karna kami berbeda rupa, berbeda warna, berbeda suara, berbeda tekstur. Namun kamilah satu satu yang menyatu, berbeda bak dua sisi dalam satu logam.
Kami berbeda, tapi kami menyatu. Maka berawal satu satu, kami kini satu, saling menguatkan sebagai pondasi, memayungi sebagai atap, meneduhkan, melindungi, mempercayakan tidur dalam tenang.
Kamilah rumah.
Karna jarak tak pernah bermakna. Pintu saksi penyatuan, menggiring satu-satu, menerima aneka rupa, menyatukan di dalam, tanpa jarak tanpa strata.
Meski emosi, ego, lalai, tak selalu terhindar,, pintu saksi penyatuan, menerima segala beda, mengasihi dengan sama, mengharmoniskan ketidaksamaan.
Kesibukan pun tak jarang merampok waktu, menomorduakan kebersamaan, merenggangkan ikatan.
Namun tak akan kemana pun tujuan pulang, selain pondasi kokoh, atap yang teduh.
Tak ada lagi yang dapat menggantikan rasa jika pulang menenangkan jiwa, membahagiakan hati.
Karna kamilah rumah, tempat berasal dan selalu kembali pulang.
Karna kamilah rumah, tempat yang menerima perbedaan dalam keharmonisan.
Karna kamilah rumah, tempat yang selamanya dirindukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar