Senin, 28 Februari 2011

Jangan Bosan, Nak


0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.
Tak akan berlanjut dengan angka baru. Jikapun berlanjut, yang kemudian akan muncul adalah kombinasi-kombinasi pengulangan.

Seperti itulah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Berulang-ulang hadir dan terlewati. Saat pagi datang dan angka 9 berganti 10, kombinasi warna hidup masih bergulir.

Meski semua berulang, bosan tak akan nampak. Hidup sudah diatur namun tatanan untuk kombinasi baru selalu tersedia seusai dua pertiga malam.

Tak kan ada lelah untuk bersemangat menyambut esok hari. Selalu indah saat berdoa, melapangkan hati, membagi bahagia, dan menikmati setiap baris kombinasi baru.

Bosan, nak? Tidak. Dan cukuplah jika semua dijawab dengan syukur.
Read MoreJangan Bosan, Nak

Selasa, 01 Februari 2011

Sepatu di Museum Kardus Kuning

Tiba-tiba teringat aku pada sepasang sepatu di dalam kardus kuning yang kuletakkan persis di depan lemari buku. Sepatu tak berpita tapi manis di mataku. Sepatu yang 'menyakiti' tapi kucintai sepenuh hati.

Perjalananku cuci mata di sebuah pusat perbelanjaan di semester awal perkuliahan waktu itu yang mempertemukanku dengannya. Sepasang sepatu berhasil menarik pandanganku. Ia sama sekali tak mewah seperti sepatu kaca milik tokoh kartun Cinderela tapi menarik bagiku. Mmmm karena ia berbeda. Yah, ia beda dari pasangan-pasangan lain. Senyum aku dibuatnya kala itu :) . Keunikannya membuatku ingin mengenalnya lebih dalam.

Sepasang sepatu itu berbahan jeans warna biru dongker. Terdapat aksen anyaman di bagian badan kaki. Sepatu biru itu mempunyai hak (hanya) setinggi tiga centimeter dan badan sepatu meruncing di ujungnya. Di bagian tumit terdapat lipatan kecil. Begitulah kuamati detil sepatu itu dan setelah kupastikan kuat, sepasang sepatu itu kubawa pulang.

Sepatu itulah yang kemudian setia menemani hari-hariku, sekalipun banjir kami terjang bersama. Awalnya saat ia kukenakan di kaki telanjang terasa perih. Lecet ternyata ;( Kukira itu hanya cara sepasang sepatu untuk berkenalan dengan pemilik baru. Ternyata oh ternyata..ia memang selalu meninggalkan 'sensasi' (kata ini aku dapat dari orang 'penting' x-) ) rasa sakit. Sensasi itu bahkan makin menjadi ketika kutapaki anak tangga ;-( Tapi toh aku tetap cinta dan tiap hari sepatu biru itu menemaniku (beserta plester warna-warni di tumit kanan dan kiriku :)) ).
Sakit pun tak masalah, yang terpenting suka dan nyaman #hihi.

Saat banjir sering menyapa sekitar kampus dan kosku, berkali-kali kusambangi tukang sol sepatu demi 'kesehatan'nya. Namun setelah tiga semester menemaniku, pada akhirnya juga aku harus merelakannya ;(( Lalu aku museumkan ia ke dalam kardus kuning berukuran sedang.

Sepasang sepatu itu kini terdiam di ujung kamar kosku. Tak tega kutempatkan di tempat lain apalagi di tempat sampah [-( Walau tak lagi dapat ia menjadi alas kaki namun paling tidak ia mampu membawa memoriku pada perjuanganku dari awal semester di Kota Atlas ini #sorilebay :P

Kusayangi ia seperti rasa sayangku pada semua milikku, apapun keadaannya, 'menyakiti' sekalipun #yanginiseriusbukanlebay 8-) Yang aku punya adalah hal-hal berarti untukku. Jikapun mengecewakan, itu hanyalah sekilas jingga diantara merah dan kuning. Semua kusayang dan mampu mewarnai hidupku dengan warna yang lebih beragam. Mereka..temanku, menemaniku, mengisi monologku, dan meramaikan hari-hariku (k) 



Read MoreSepatu di Museum Kardus Kuning