Setengah mati rasanya saat kudaratkan rudal pembasmi ke beberapa sudut yang kuyakini sebagai sarang makhluk-makhluk mini itu. Bagaimana tidak, badanku berebut udara segar disaat aroma rudal mulai memenuhi singgasanaku. Geram aku dibuatnya. Sudah rela aku menghemat hirupan udara segar namun nyatanya mereka masih merajai singgasanaku (hingga note ini diketik).
Sebelumnya sudah kucoba berbaik budi menempelkan sebuah notice berisi larangan bagi mereka dan sebangsanya untuk memasuki wilayahku. Tapi toh tak diindahkan. Mereka tetap masuki wilayah terlarang dan berusaha merajai.
Hah, akan lahirkah rudal pembasmi yang lebih kuat? Andai tak ada efek gatal, bentol-bentol, dan peluang terjangkit DB, aku pun tak kan sebegitu geram. Semua kata larangan yang terpampang di pintu kamarku pun diabaikan. Pada akhirnya kucurigai bahwa mereka adalah makhluk tuna aksara. Lalu haruskah kuajari mereka baca-tulis?? [-(
Bukankah aku manusia berhati lembut, sudah kubuat nota damai, sudah pula kubisikkan teguran halus di awal. Dan, oke lah, karena mereka tak indahkan niat baikku, kini tak lagi segan kugencarkan aksi pembasmian. Tak ada lagi ampun bagimu, Nyamuk! :-b
Tidak ada komentar:
Posting Komentar