“Sapu tangan yang harum baunya..”
Sepenggal lirik keroncong ini mengingatkanku pada masa kecilku. Tak ingat lagi berapa pastinya usiaku, ketika itu aku belum menginjak usia siswa Taman Kanak-kanak.
Kala itu Bapak dan Ibu mendudukkanku di sebuah meja makan, berkaki besi, beralas kain biru bercorak kotak-kotak, dan menghadap ke Timur, membelakangi pintu rumah yang masih bercat merah. Sedangkan mereka tengah asyik memasak nasi goreng.
Tak ada lagi potongan memori yang bisa kuingat. Kecuali momen ketika mereka memasak sembari mengalunkan sebuah lagu. Entah apa judul lagu itu, entah siapa pula penyanyi aslinya. Aku masih terlalu kecil untuk bisa mengetahui hal itu. Kini aku hanya tahu, dari kenangan itu aku mengingat beberapa lirik lagu keroncong lawas itu, lagu yang dinyanyikan Bapak-Ibuku.
“...menawan hatiku..
Basah air mataku karena
datangnya tangisku..
Penuh dengan rencana dan janji..
harus disetujui..
Meskipun bagaimana terjadi..
sehidup semati.. ”
Baru setelah tumbuh besar, aku tahu siapa pengarang dan penyanyi aslinya.
Meski versi aslinya sangat
merdu, tapi tak kan bisa
seindah alunannya dalam
ingatan masa kecilku (f)
Tentu saja, karna dinyanyi-
kan Bapak-Ibuku :)
Baru setelah tumbuh besar, aku tahu siapa pengarang dan penyanyi aslinya.
merdu, tapi tak kan bisa
seindah alunannya dalam
ingatan masa kecilku (f)
Tentu saja, karna dinyanyi-
kan Bapak-Ibuku :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar