Selasa, 09 Oktober 2018

L E G O W O

Apapun wujudnya. Tak ada kesempurnaan yang nyata.
Hubungan orang tua dan anak pun tak ada yang sempurna. Kakak dan adik ada kala berselisih jua. Suami dan isteri juga mengalami argumentasi yang tak sama, tak selalu sepadan, tak selalu cukup di masing-masing indera.

Saat melihat keindahan figur yang terlihat oleh mata tanpa cela, saat itulah Tuhan menguji mata hati kita. Atas kekurangan yang belum dilihat mata. Karena belum waktunya terlihat, atau memang karena masih disembunyikan.

Saat kita berseteru atas kekurangan-kekurangan yang tak diterima ego, saat itulah Tuhan ajarkan makna Legowo. Tentang sabar, ikhlas, bersyukur, berserah dan ridho.

Bagi ego, pasangan sempurna adalah mereka yang tanpa cela dan kurang, inside dan outside. Fisik semampai, bening, rupawan. Pemikiran cerdas, beriman, wawasan luas, sukses, gigih, bijak, santun, berbakti, berbudi. 

Namun (kata Ibu Peri) makna Kesempurnaan sendiri sebetulnya dititipkan Tuhan di tiap-tiap kekurangan. Di tiap-tiap kelemahan. Di tiap-tiap cela ketidaksempurnaan. Tentunya yang telah diterima hati dengan lapang, yang diajarkan Tuhan dalam makna Legowo.

Dan bagi saya (dan Ibu Peri), Sempurna adalah cara menyikapi gabungan kekurangan-kelemahan-cela, atau yang disebut sebagai Ketidaksempurnaan, dengan Legowo dan bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar