Dulu aku suka melompat-lompat di tempat tidur susunku demi menempelkan sticker di langit-langit.
Aku sering berkedip-kedip dan tak bosan memandang langit-langit saat pagi datang namun ngantukku belum tuntas.
Aku selalu memandang langit-langit di tempat yang baru kukunjungi.
Aku selalu melukiskan huruf per huruf di langit-langit dari paragraf-paragraf panjang yang muncul otomatis ketika aku butuh kawan.
Aku selalu bisa cepat menghentikan tangis dengan mengajak langit-langit berbicara.
Aku sering merasa tenang dengan memandang langit-langit, lalu memejamkan mata dan tersenyum.
Saat usiaku tujuhbelas adalah saat pertama aku mampu mengakrabkan diri dengan langit-langit kamar baru, kamar kos.
Tahun-tahun sebagai mahasiswa, langit-langit adalah kawan yang menenangkan dalam diam. Antara lelah, ngantuk, dan kewajiban yang masih menanti.
Dan malam ini, disaat mata sulit dipejamkan, langit-langit tersenyum ramah. Memberiku rasa penasaran, kenapa kau bernama langit-langit? Apa tak bisakah jika kau langit-langit, maka lantai adalah bumi-bumi?
Lalu aku pilih turun ke lantai bersama bantal selimut dan tab. Aku tuliskan apa yang ingin kusampaikan tentangmu.
Sambil menikmati berteman dengan bumi-bumi dan langit-langit, aku coba tutup tulisan ini dengan sebuah senyum dan doa :-)
Tuhan, tidurkanlah hamba. Hapuskanlah sesal, kecewa, dan sakit yang tersisa,, lalu bangunkanlah kembali hamba dalam hidup yang lebih bermanfaat dan berkawan bahagia.
Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar